
Kemarin 25 September 2007 adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di Benteng Rotterdam. Meski saya lahir dan besar bahkan hingga sekarang tinggal di daerah ini, baru kali inilah saya mempunyai kesempatan mengunjungi langsung benteng peninggalan kerajaan Gowa ini. itu pun juga tanpa sengaja karena urusan proyek di Dinas Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala yang kebetulan berkantor dalam Benteng Rotterdam ini. Ada sedikit rasa kagum melihat saksi sejarah perjuangan orang Makassar di jaman dulu. Kagum,.. dan sekaligus sedih,…
Sudahlah kalah negeri Mengkasar
Dengan kodrat Tuhan malik al-djabbar
Patik karangkan di dalam fajar
Kepada negeri yang lain supaya terchabar
Entji Amin. Syair Perang Mengkasar, 1670(?)
Ini adalah foto-foto tua Benteng Rotterdam gambar 1 (katanya sih) adalah situasi makassar pada tahun 1885


Benteng ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa X yaitu Tunipallangga Ulaweng. Di bagian dalam Benteng ini terdapat rumah panggung khas Gowa yang merupakan kediamaan dari raja Gowa beserta keluarganya.
Terjadi pertempuran antara Belanda dengan Gowa menjadikan Benteng ini porak – poranda. Kemudian Bangsa Belanda memutuskan untuk tinggal disana dan merenovasi bangunan dengan arsitektur Belanda.
Masa kejayaan Makassar tak pernah lepas dari Sombaopu. Sombaopu mulai dibangun pada masa pemerintahan Tuma’parisi’-Kallonna seiring mulai menguatnya Kerajaan Gowa. Pada masa pemerintahan Sultan Malikussaid bersama Perdana Menterinya yang terkenal Karaeng Pattingalloang, Benteng ini diperkuat dengan persenjataan, memanfaatkan bukan hanya tenaga asing tapi juga naskah-naskah yang diterjemahkan dari bahasa asing seperti Portugis, Malayu dan Turki. Pada masa itulah, di awal abad ke-17, Kota Makassar yang tidak lain adalah Sombaopu dan sekitarnya semakin dikenal oleh pedagang asing. Jumlah penduduk pun melonjak melampaui Roma.
Kemegahan ini mulai menggoda VOC untuk memonopoli pelabuhan strategis ini. Sebagai perusahaan dagang mereka bergerak murni untuk mendapatkan keuntungan, untuk itu mereka harus menggunakan cara apapun, termasuk monopoli, yang waktu itu memang menjadi praktek lazim bagi bangsa Eropa yang datang ke wilayah yang mereka sebut Indies. Biasanya, upaya pertama dilancarkan dengan meminta raja meluluskan maksud monopoli itu. Tentu saja permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh raja-raja Gowa, mulai dari Sultan Alauddin, Malikussaid, hingga Sultan Hasanuddin.
Tidak berhasil dengan jalan halus, VOC akhirnya berhasil melemahkan Gowa-Tallo dan sekutunya lewat peperangan. Tahun 1667, dengan bertempur bersama pasukan Bone-Soppeng, Ternate dan Buton, mereka akhirnya memaksa Gowa melepas banyak daerah bawahannya, hingga Gowa tinggal bertahan di dalam dan sekitar benteng terakhir, Sombaopu. Saat itulah Perjanjian Bungaya ditandatangani.
Benteng ini bukan hanya sekedar benteng istana, tetapi lambang pemersatu kekuatan Gowa. Speelman sadar, tanpa menaklukkan Sombaopu, kemenangan demi kemenangan di medan pertempuran lain tidak berarti, karena Gowa merasa belum bertekuk lutut.
Akhirnya, perang kembali pecah 14 Juni 1669. Dibuka dengan meledakkan dinding Sombaopu, yang tebalnya sekitar tiga setengah meter.
Pertempuran berlangsung sepanjang hari dengan jeda hanya beberapa jam pada dini hari. Itu berlangsung beberapa hari. Namun terkepung oleh kekuatan gabungan, dan terlemahkan oleh pecahnya kekuatan, Gowa akhirnya mundur meninggalkan benteng ini.
Speelman tidak menunggu lama. Hari itu juga, 24 Juni 1669, dia mengambil seluruh persenjataan yang tertinggal di benteng itu dan menghancurkan dinding-dinding dan bastion benteng, sementara sebelumnya isi benteng telah dijarah pasukan pribumi. Itu baru awal dari proyek besar dan panjang VOC, menancapkan kuku imperialisme.
Kita, dan anak-anak kita kelak, akan lupa bahwa orang yang tinggal di Makassar ini empat ratus tahun lalu, sanggup mengatakan tidak terhadap sistem dagang monopoli Eropa. Mereka sanggup membangun sistem pemerintahan sendiri, tata masyarakat sendiri. Mereka hidup dengan gaya hidup sendiri, mereka membuat sabun, minuman, kue-kue, sandal, mereka produktif. Akan halnya bahasa, mereka memodifikasi abjad dari tempat lain untuk membuat aksara sendiri, agar bisa menikmati komunikasi tertulis, mereka invoatif. Mereka bukan orang laut, tetapi mereka berlayar ke sana ke mari, sebagai pedagang dan pengemudi. Untuk itu mereka buat peta sendiri dengan bahasa sendiri. Mereka belajar dengan cepat, punya daya hidup. Mereka memang mengutip, tapi itu hanya sebagai pelengkap bukan yang utama. Singkatnya, mereka adalah masyarakat yang mandiri.
Kita dan anak-anak kelak lupa bahwa kita telah menelantarkan sejarah, menelantarkan masa depan. Lupa kalau benteng terakhir yang merepresentasikan ingatan masyarakat terhadap sejarah dan budaya lokal itu pernah ada. Kita lebih memilih datang ke pesta kembang api di Gowa Trade Centre, Tanjung Bunga, dan larut hingga lupa diri kalau di sana tak ada satupun karya kita.
Sumber Pustaka :
- Nurhady Sirimorok – Membaca Kejatuhan Kedua Sombaopu 2007
- Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam)


Nice story for you brother…..
Apakah anda punya usul bagaimana agar kita dan anak-anak kita mau belajar sejarah?
masa lalu adalah pelajaran masa depan
saya jg orang Makassar dan baru hari ini minggu 2 maret saya menginjakkan kaki di Benteng tersebut.
kesan pertama sewaktu melihat tempat itu yakni rasa kagum dan rasa bangga serta rasa sedih yang amat mendalam bagi para pahlawan kita dlm memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita.semoga jasa2nya bs menjadi pedoman buat saya pribadi dan buat orang lain secara umum.
Yang paling penting adalah upaya pelestarian dan pemeliharaan situs sejarah sebagai bagian integral Indonesia yang kaya budaya. Tanggung jawab seluruh pihak terkait, tak terelakkan — termasuk kita (warga negara dan pemilik sah kebudayaan).
tata kota kita mestinya memperhatikan sejarah. kenapa ya makassar terlalu penuh dengan ruko dan banyak juga bagian-bagian kota yang penuh dengan sejarah tapi tak terurus dan bahkan diubah fungsinya.
Sekarang anak muda makassar dan sulsel pada umumnya sudah mulai meninggalkan budayanya..bahkan di makassar sudah lebih kental budaya asing yang di lakukan sebagian anak mudanya. Yang di takutkan adalah semua kenangan tentang kejayaan daerah kita akan terlupakan oleh generasi mendatang.