Pada kesempatan ini saya ingin membahas lanjutan dari artikel-artikel
saya sebelumnya, yaitu 5 Tahap Perencanaan Keuangan, yang meliputi:
1. Menentukan Tujuan Keuangan.
2. Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
3. Membuat Rencana Keuangan.
4. Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
5. Monitor dan Evaluasi Berkala.
Kali ini kita membahas lebih dalam mengenai tahap terakhir, yaitu
melakukan monitor dan evaluasi secara berkala.
A. Memonitor Portfolio Investasi.
Setelah kita melakukan investasi, yang perlu kita lakukan selanjutnya
adalah membuat catatan mengenai investasi kita dan melakukan monitor
terhadap perubahan nilai investasi kita.
Misalkan saja Pak Budi
memiliki 3 jenis investasi, yaitu Deposito, Reksa Dana Saham dan
Emas, yang dibeli dengan harga Rp. 20.000.000, Rp. 30.000.000, dan
Rp. 25.000.000. Dari masing-masing investasi Pak Budi mengharapkan
return sebesar 5%, 20,% dan 15%. Berikut adalah kondisi awal investasi:
======================================================================
Jenis Investasi Nilai Awal Harapan Return
======================================================================
Deposito Rp. 20.000.000,- 5%
Reksa Dana Saham Rp. 30.000.000,- 20%
Emas Rp. 25.000.000,- 15%
======================================================================
Setelah 1 tahun, Pak Budi melihat kembali portfolionya dan menghitung
ulang nilai terkininya. Nilai akhir dari investasinya adalah Rp.
21.000.000, Rp. 39.000.000, dan Rp. 27.500.000.
========================================================================
=
Jenis Investasi Nilai Awal Harapan Nilai Akhir Hasil
Return (%)
========================================================================
=
Deposito Rp. 20.000.000,- 5% Rp. 21.000.000 5%
Reksa Dana Saham Rp. 30.000.000,- 20% Rp. 39.000.000 30%
Emas Rp. 25.000.000,- 15% Rp. 27.500.000 10%
========================================================================
=
Dari nilai akhir investasi, bisa dihitung berapa persen yang benar-
benar Pak Budi dapat dari masing-masing jenis investasinya. Hasil
perhitungan memperlihatkan bahwa Pak Budi sebenarnya mendapatkan 5%
dari deposito, 30% dari reksa dana saham dan 10% dari emas.
Apakah pelajaran dari melakukan monitor terhadap investasi ini?
Pelajarannya adalah dalam dunia investasi, hasil yang kita dapat
belum tentu sama dengan hasil yang kita harapkan sejak awal
investasi. Tidak ada yang pasti dalam dunia investasi. Dari tabel
kedua, kita bisa melihat bahwa Pak Budi mendapatkan hasil yang sama
dengan yang diharapkan dalam depositonya, mendapatkan hasil yang
melebihi harapan untuk reksa dana saham dan mendapatkan hasil yang
lebih kecil dari yang diharapkan dari emas.
Untuk investasi yang hasilnya sama atau melebihi yang kita harapkan,
tentunya menyebabkan kita menjadi lebih percaya terhadap investasi
tersebut dan mempertimbangkan untuk berinvestasi lebih banyak. Di
sisi lain, untuk investasi yang hasilnya lebih kecil daripada yang
kita harapkan, kita perlu meninjau kembali investasi tersebut:
1. Bandingkan dengan investasi sejenis yang dikelola oleh manejer lain.
Misalkan saja Anda membeli reksa dana saham dengan harapan hasil
sebesar 25%, namun ternyata hasil yang Anda dapat pada tahun tersebut
hanyalah bekisar 20%, yang pertama Anda lakukan adalah bandingkan
hasil yang Anda terima ini dengan reksa dana saham dari manejer
investasi lain. Contohnya, misalkan Anda membeli reksa dana saham
Schrodder, dan merasa hasilnya kurang memuaskan untuk Anda. Maka Anda
dapat membandingkannya dengan reksa dana saham manejer investasi
lain, misalnya saja reksa dana saham Manulife, Danareksa, Trimegah,
dan lain-lain. Apabila ternyata reksa dana saham dari manejer lain
memberikan hasil lebih bagus, maka Anda dapat mempertimbangkan untuk
memindahkan investasi Anda ke manejer tersebut. Namun, disisi lain,
jika ternyata pilihan reksa dana saham Anda ternyata memberikan hasil
paling besar, maka lanjutkan ke langkah kedua.
2. Pelajari mengapa investasi Anda tidak memberikan hasil sesuai
harapan Anda.
Apakah hal yang membuat reksa dana saham Anda tidak memberikan
hasil sesuai dengan yang Anda harapkan? Cobalah mencari informasi-
informasi yang dapat menjelaskan hal ini. Mungkin saja investasi
reksa dana saham Anda mengalami penurunan yang disebabkan karena
memburuknya situasi ekonomi yang disebabkan karena melemahnya mata
uang rupiah, suku bunga bank naik, harga minyak naik, atau mungkin
saja karena adanya krisis seperti mortgage yang barusan terjadi?
Kemudian Anda dapat melakukan perkiraan apakah kejadian-kejadian
seperti ini dapat terjadi kembali di tahun mendatang? Apabila Anda
memperkirakan bahwa situasi tahun mendatang kurang begitu baik untuk
investasi ini, maka Anda dapat menarik uang Anda dan memindahkannya
ke investasi jenis lain.
Dalam proses monitor ini juga Anda dapat mengatur ulang diversifikasi
untuk portfolio Anda. Misalkan saja pada kasus Pak Budi, portfolio
Pak Budi adalah 26,67% investasi bertipe aman (deposito), 40%
investasi agresif (reksa dana saham), dan 33,33% investasi moderat
(emas). Setelah waktu berjalan setahun, kita dapat melihat bahwa
portfolio Pak Budi sudah berubah menjadi 24% investasi aman
(deposito), 44,57% investasi agresif (reksadana saham), dan 31,43%
investasi moderat(emas). Untuk mengembalikan portfolio Pak Budi ke
posisi semula, Pak Budi harus menjual Rp. 4.000.000 dari reksa dana
sahamnya untuk dipindahkan ke deposito dan emas.
B. Evaluasi ulang kebutuhan keuangan Anda
Selain portfolio investasi kita, ternyata kebutuhan kita juga berubah
seiring dengan berjalannya waktu. Dan kita juga perlu mencocokan
kembali rencana keuangan kita, dengan kebutuhan sekarang.
Misalkan saja, dulunya Anda berpikir bahwa asuransi dengan
pertanggungan sebesar Rp. 500.000.000,- sudah cukup untuk mengamankan
finansial keluarga Anda. Namun, ternyata tahun ini Anda beruntung,
bisa menikmati kenaikan pangkat dalam karir. Pendapatan Anda
meningkat 2 kali lipat. Begitu juga belanja Anda dan keluarga. Dengan
taraf hidup baru, pertanggungan asuransi yang dulunya sebesar Rp.
500.000.000,- sudah tidak cukup lagi untuk keluarga Anda. Anda perlu
membeli asuransi tambahan.
Demikian juga yang terjadi dengan rencana-rencana keuangan Anda yang
lain. Mungkin saja anak Anda sekarang sudah memiliki minat khusus
terhadap salah satu bidang, dan sudah menetapkan universitas mana
yang ingin dia tuju. Apabila universitas yang dipilih anak ternyata
berbeda dengan yang Anda pilih ketika membuat rencana pendidikan
anak, tentunya Anda juga perlu menghitung ulang berapa biaya yang
diperlukan untuk pendidikan anak Anda.
Untuk rencana pensiun, mungkin saja ada gaya hidup baru yang tetap
ingin Anda pertahankan hingga masa tua nanti. Berapakah dana yang
diperlukan? Masukan juga ke dalam rencana pensiun.
Jadi secara berkala, kita harus melakukan monitor dan evaluasi
kembali terhadap rencana-rencana keuangan kita. Monitor berguna untuk
memastikan bahwa investasi berjalan sesuai dengan rencana kita, dan
apabila ternyata tidak, kita dapat mengambil tindakan secepatnya agar
tujuan keuangan tetap dapat tercapai. Sementara evaluasi perlu
dilakukan karena kebutuhan kita bisa saja berubah seiring dengan
jalannya waktu.
Sekian dahulu artikel saya untuk kesempatan ini. Sampai jumpa.
NB:
Bagi yang belum menerima email saya mengenai tahap pertama hingga
keempat perencanaan keuangan, Anda dapat mengaksesnya di:
http://www.keuangan-pribadi.com/5-tahap-perencanaan-keuangan4/
http://www.keuangan-pribadi.com/5-tahap-perencanaan-keuangan3/
http://www.keuangan-pribadi.com/5-tahap-perencanaan-keuangan2/
http://www.keuangan-pribadi.com/5-tahap-perencanaan-keuangan1/
Regards,
David Ciang
www.keuanganpribadi.com


berapa ya besar suku bunga tabungan di Bank?
berapa % ya tiap bulannya….?